Sabtu, 07 Mei 2016

Short-Story~




The Childhood Dreams

Tak mungkin dihindari kebanyakan orang dalam hidupnya pasti mempunyai mimpi dan harapan yang mereka inginkan, meskipun demikian pasti semua impian tidaklah selalu sama dan sejalan dengan harapan kita. Tentu, kita harus berjuang kendati untuk mencapai impian kita. Mungkin, sebagian dari sang pemimpi telah sukses dengan impian masa kecilnya, bahkan mungkin sebagian lainnya tidak begitu mulus dengan harapannya.
           
---------
Teringat sungguh olehku kenangan dimana ketika aku masih berparas lucu dan begitu menggemaskan, ya ketika itu ku ingat adalah tempat dimana ku berpijak untuk mendaki mimpiku, Taman Kanak-Kanak. Begitulah, kebanyakan orang menyebutnya, aku berada diantara kerumunan orang yang awalnya tak ku pahami mereka siapa dan mengapa keberadaanku disini, seiring waktu ku paham, bahwa ini adalah tempat untukku mencapai puncak untukku mencapai cita dan impian. Sejak dulu, ketika pertanyaan silih berganti datang, aku pun selalu mempunyai jawaban yang sama, ya ini masalah impian yang selalu ditanyakan orang-orang disekitarku kala itu. Suatu hari nanti kamu ingin jadi apa? Tanya guruku”. Aku ingin jadi polwan bu, (tanpa rasa takut aku menjawab pertanyaan itu dan begitu bahagia rasanya ketika aku bermimpi demikian). Wah itu luar biasa dan semoga kamu dapat mencapai mimpiku nak, “Guruku. Amin amin amin~
            Waktu terus berlalu, sang fatamorgana berganti silih berganti diufuknya. Ketika aku melewati hari-hariku untuk mencapai mimpiku. Dan 2 tahun berlalu, ketika aku duduk dibangku Sekolah Dasar. Pengalaman baru kembali dimulai dan begitulah semangatku berkobar bak perang dipenjajahan,hehe. Rasanya, aku merasakan sensasi yang berbeda kala itu, namun tanpa perubahan yang lain, yakni dengan cita yang sama, Aku ingin jadi Polwan, tegasku kala itu.
Banyak hal yang tak pernah ku sadari saat itu, mengapa orang-orang disampingku begitu tulus mendoakanku untuk mampu mencapai citaku, rasanya aku bersyukur berada diantara mereka yang tak lelah mendoakanku dan mendukung impianku. Semangat jiwaku semakin berkobar, ya begitu bersemangat. Karena ku ingat, ketika aku beranjak di kelas akhir, aku mendapati seorang yang tiba-tiba menemuiku kala ujian nasional berlangsung, beliau adalah salah satu guru ditempat saat aku ujian, dan beliau berkata padaku, “Nak, kamu seperti polwan. Sontak aku pun terkejut, entah mengapa beliau setibanya berkata demikian padaku?, jawabku sederhana, amin pak terimakasih doakan saja saya pak untuk bisa mencapai impian saya,” Beliau tersenyum begitu dalam, dan pikir hatiku adalah padahal aku tak pernah berucap dan bercerita akan hal ini pada sosok yang tak pernah ku kenal sebelumnya, namun ku anggap ini doa dan semangat bagiku kedepannya.
            Kelulusan pun tiba, dan aku beranjak di Sekolah Menengah Atas, dan begitu bahagianya kala aku bisa masuk disekolah impianku yaitu di Madrasah Tsanawiyah, ya disitulah puncak kedewasaan tiba dan entahlah rasanya ketika ada bertanya padaku, ingin jadi apa kamu nanti? Aku pun berucap bukan menjadi polwan, malah ku sebut Qariah International dan Guru. Yah, rasanya agak aneh ketika aku secepat itu merasa tanpa sadar dan pada akhirnya aku tak berharap menjadi seperti dulu lagi seperti aku masih anak-anak. Sungguh, mimpiku berubah.
            Ku coba seiring waktu mencari jati diriku, ternyata kutahu aku tak pantas menjadi polwan karena kupikir postur badanku yang tak memadai dan aku harus jauh lebih kuat fisik dan mental. Dan ku pikir aku takut ketika nanti aku tak sanggup menjalani itu, karena menjadi polwan tak segampang yang dipikirkan orang-orang, kataku sembari termenung”. Berlalu waktu seiring masaku menduduki putih abu-abu, ya aku begitu yakin ketika jati diri bak telah singgah betul dihadapanku. Aku tetap berpegang teguh pada mimpi, namun pada akhirnya hatiku sangatlah kokoh dan begitu kuatnya ketika pengajaran dan pembelajaran yang kulewati dalam hidup, dan aku berharap menjadi seorang Guru. Yaaaa, guru yang memberikan segala ilmunya tanpa pandang bulu, yang memberikan segalanya dengan ikhlas, dan tak kenal lelah untuk berjuang memberi semangat pada muridnya. Oh, ya Allah, aku sangat menginginkan impian itu. Seruku dalam doa setiap hariku.
            Banyak hal yang tak pernah kusadari, ketika beranjak dewasa rasanya banyak hal yang dapat menjadi impian bagiku, aku melewati dunia seni tari, music, teater, dan istilahnya mc atau host lah, dan masih banyak hal yang seakan aku ingin memilikinya seutuhnya dalam hidupku. Dan kusadari jika demikian, adalah ketika aku bisa menjadi Guru, karena bukan hanya itu yang bisa kulakukan, tapi aku kan bisa merubah dunia dengan pengetahuan. Sembari selalu berdoa dan berusaha mencapai citaku, aku berharap Allah akan mengabulkan.
Hingga pada akhirnya, saat ini ketika aku memasuki masa perkuliahan, rasanya impian menjadi Guru tak pernah hilang dibenakku, namun mungkin yang dirasa aneh oleh orang-orang adalah karena ketika aku memilih prodi dikampus tercintaku, sangat jauh dari kata impianku, Guru.
Namun, itu bukanlah masalah bagiku, karena orangpun tau apa yang ku senangi begitu banyak dan jika pada akhirnya jatuh bukan pada tempat untuk mencapai impian bukanlah kesalahan, dan aku yakin aku tetap bisa mencapainya, kendati akupun berharap bisa pula menjadi Penyiar Radio maupun Televisi yang dikenal banyak orang. Dan dari situpun bagiku, Insyaallah kan memberi satu pemahaman dan ilmu untuk orang yang mendengar dan menyaksikannya. Meskipun begitu, rasanya sulit diungkapkan. Banyak pilihan yang ku arungi dalam hidup. Namun satu kupercaya, Allah kan menjaga dan memelihara penuh serta memberikan hal yang terbaik ketika umatNya bersungguh-sungguh dan berupaya mampu tuk mencapai impiannya. Amin ya Robbal alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar