Jumat, 03 Maret 2017

REMEMBER - AMIRATUN NAHR


Kerlap-kerlip keramaian lampu kota
Binarnya nampak hingga pelupuk mata
Kurasakan sepinya hati ditengah malam yang ada
Terngiang bisik menusuk ke dalam jiwa


Ada sosok yang menyapaku dalam bayang
Tertegun aku tuk mengenang
Dalam benak, yang masih terus mengiang
Tanpa ada halangan

Bak hamparan angin begitu kencang
Tanpa bertepi satupun diantaranya
Desahku makin terasa
Aku semakin bertanya


Iring-iringan suara ramai
Alunan nada tanpa henti
Lagi dan lagi

Khayalku mulai sulit menerkanya
Dalam bias cahaya malam yang menyapa

SHORT-STORY



RUMAH SENDIRI
AMIRATUN NAHR


            Bagi sebagian orang bukanlah hal mudah menerima kekalahan nyata dalam sebuah kompetisi bahkan hal lainnya. Tapi beginilah nyata kehidupan sulit kita kira, sekiranya apa yang telah diupayakan sangat maksimal namun belum berbuah manis seperti yang diharapkan maka tetaplah teguh dalam pendirian, sabar dalam penantian.
            Ya begitu pula kasus yang tengah aku alami, ini nuansa kali pertama yang kualami rasanya sulit kupercaya ketika banyak orang yang mampu memberikan kepercayaan luar biasa padaku. Dalam pemilihan kala itu, mereka memandangku seperti apa yang mereka harapkan dan keyakinan penuh mereka akanku.
            Waktu berlalu, detik demi detikpun tak berhenti disitu. Menjadi pemimpin harapan orang banyak bukanlah hal yang mudah, aku menapaki berbagai hal sulit, pahit, suka hingga aku sendiri pun sulit mengartikan apa yang menerpaku kala itu. Bersama kakanda yang mendampingiku untuk sama-sama berjuang untuk harapan orang terkasih, dengan Bismillah ku mulai langkah ….
            Tak ada yang berubah dalam diriku, aku tetap sedia kala berjalan mengikuti jalan hidupku, tapi kali ini aku dalam kompetisi besar dimana aku harus dihadapkan pada mereka pesaingku sekaligus kanda partner dalam seperjuanganku. Bagiku itulah persaingan, siapapun yang akan ada dihadapan mata kita untuk meraih bahkan merebut kuasa, pasti dengan langkah apapun itu. Tapi tidak denganku, kekuatan hatiku yang memaksaku untuk tetap setia pada kejujuran dalam setiap langkahku. Kenyataan, pasti dan sangat sulit percaya bahwa dalam pertarungan tidak akan ada hal rumit didalamnya, padahal jelas sungguh dapat dirasa apa yang terjadi bagaimana kondisi dan siapa yang terlibat andil untuk setia dalam persaingan akan mempertaruhkan segalanya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
            Beralih waktu, hingga masa itu tiba dimana kali pertama aku merasa seakan menjadi sorotan berjuta mata yang memandang tanpa kedip. Aku mulai bicara aku mulai menyapa, tapi ini bukan kali pertama untuk itu pada khalayak, aku sudah cukup terbiasa berjumpa dengan mereka. Semua berjalan baik, ya kampanye kala itu. Siapa kira aku berani maju untuk jadi dan memperjuangkan aspirasi kawan seperjuanganku. Mau dikata berat, ini tak seberat memikul keluhan banyak massa. Mau dikata mudah, ini tak semudah pandangan yang ada. Inilah langkah bamula istilah bahasa lahirku. Dengan inilah aku, apa adanya namun bukan karena ada apanya.
            Perjuangan senantiasa berlanjut dan terus, hingga pada akhirnya masa akhir tiba. Ya, aku kalah dalam kompetisi ini, bagiku tak mengecewakan berat karena niatan sudah dibangun lillahi ta’ala hingga akupun berjalan untuk mencapai dan untuk memberikan hasil terbaik bagi semua. Kalah bukan berarti lemah, kalah bukan berarti kita pasrah. Ini hanya sebagian kecil kekalahan hidup, kalah bukan berarti mati melangkah, tapi kalah membangun gairah, membangkitkan semangat tanpa menyerah.
            Hari itu aku belajar lagi dan lagi, hidup tak selamanya menang dalam hal yang diinginkan. Bahagia dalam hal yang telah diupayakan sangat. Tapi, telah kuyakini suatu hal indah telah Allah siapkan untukku nanti, hikmahNya. InsyaaAllah.

-----------------
            Waktu telah berlalu, hingga tak kusangka panggilan atas usaha takkan ada yang mengecewakan. Satu hilang, berganti satu yang datang. Bahkan lebih dari itu. Sebab kali ini, Allah memperuntukkan daku untuk ketempat yang jauh lebih dari yang sempat aku harapkan.
            Langkah itu akan segera aku mulai, aku dapati telah dalam pandangan ini nyata bukan khayalan. Aku tinggal bersiap menyambutnya datang, menjemputnya, merangkul dengan setia apa yang telah Allah gantikan untukku saat ini. Alhamdulillah…. Alhamdulillah
            Dimana tempat itu aku merasa nyaman, ini rumahku inilah rumah sendiri bagiku. Dengan mereka, bersama mereka yang setia mendampingiku, keluargaku dibangku perkuliahan. Terimakasih sahabat-sahabat. Rasanya, keajaiban secepat kilat datang padaku tanpa aku sadari sebelumnya, namun syukurku hingga langit tertinggi, sujudku yang hanya untukNya yang memberikan hikmah dibalik kesabaran atas perjuangan yang ada.
            Inilah keajaiban nyata, aku belajar dari apa yang telah ku impikan. Seperti hanya lewat mata dan hatiku yang berucap “Aku akan bisa untuk hal demikian”, ini nyatanya telah kudapati.
Semoga apa yang telah Allah berikan, kesempatan terbaik dari yang tak pernah aku perkirakan telah didatangkanNya, thanks to Allah. Ridhoi-lah perjuangan hambaMu yang terkadang lika-liku kehidupan selalu mencoba menggoyahkan bahkan meruntuhkan kuatnya keyakinan.
Percayalah hikmahNya itu nyata.
Bismillah… terus melangkah ~

SHORT-STORY



INGATKAH, KITA?
AMIRATUN NAHR

Masih sama hal biasa yang selalu tak pernah aku inginkan dalam benakku, tapi entahlah bagaimana aku menjelaskan perihal kisah ini pada dunia agar semua mampu bungkam agar tak bercerita dan tutup buku atas kisah ini.
Kupikir bukan hanya aku yang pernah berpikir satu diantara kita kan menjadi bagian saling satu dan sulit terpisahkan, walau jarak dan waktu mampu kita bantah. Tapi kisah tak semudah itu, kenangan pula tak semudah lepas begitu saja, itu adanya dalam pikiran sulit jika harus sekejap lantas hilang atau bahkan bisa melekat erat.
Kali ini aku mulai bercerita, ketika begitu banyak hal yang ku alami yang kita alami. Ini bukan untuk saling menyalahkan apa pernah terjadi tapi memperbaiki diri membenahi apa yang telah terurai dalam sebuah kisah.
Kadang, aku merasa bahwa ini hanya mimpi. Hadirnya tanpa lelah, terus memanggilku dengan begitu kuat dengan begitu kencang, merangkul erat janjinya dalam ingatanku dalam ingatanku. Iya, aku masih ingat itu.
Layaknya aku bermimpi akan indah untuk nyatanya, tapi apalah artinya mimpi yang hanya bermakna bunga tidur semata. Daku pun lelah untuk berlebihan menafsirkan mimpi yang hanya sebatas mimpi tidur.
Aku sadar, hadirnya memang nyata tak pernah hilang dalam ingatanku. Ucapnya, janjinya, aku masih ingat itu. Semuanya aku ingat. Bukankah itu kenangan? Apakah kau disana mengenangnya? Sudahkah kau pikir itu kau tepati, sudah? Jawabnya, hanya kau lah titik terang untuk itu.
Jujur, aku tak pernah ingin mengulang bahkan mengulas titik balik kisah yang pernah terlewati namun semua yang ada tak aku sangka seperti ada sebuah tanda yang Tuhan titipkan untukku agar aku ingat kisah itu, meski kusadari kita takkan pernah jumpa lagi, bahkan mungkin dalam tempo lama, atau selamanya.
Apa yang salah? Tidak ada untuk pembahasan itu, hanya saja hatiku bingung untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Aku merasa janjinya kembali terngiang dalam ingatanku, bisiknya yang syahdu begitu jelas, hingga aku merasa dia menghampiriku tapi tak berwujud. Apa ini khayalan semata atau entahlah ….
Aku hanya tak ingin kesalahan yang sama itu diulang, kesalahan yang dalam indera penglihatanku jelas aku tak ingin itu terulang, jika aku bisa ingin kuhapus semua kisah yang pernah ada. Biarlah dunia menyembunyikannya dalam diam dan dalam ingatanku saja.
Kesalahan mungkin kan terkenang, tapi bagiku ingatlah aku hanya ingin mengenang sosokmu dalam kebaikan yang ada dalam pandangku. Tak lebih, biarlah waktu ini berlalu biarlah semua yang terjadi. Biarlah terjadi telah menjadi satu kenangan utuh dalam ingatan. Biarlah ini kan jadi pelajaran. Sebab takdir berikutnya, siapa yang tau untuk kita. Bukan begitu?



                                                                -Ditempat yang terkenang oleh waktu diantara kita-

RUMAH KAMI - AMIRATUN NAHR


Aku terayun-ayun dalam hembusannya
Terbawa daku kian tersiksa
Lelah terasa penat pun jua
                Tak kukira dalam cerita yang kuhadapi
                Menatap pilu kisah bumi yang ku pijak ini
                Teriakan
                Jeritan penghuni nya
                Bak tertutup tebing besar sulit didaki
Rumahku nan elok jutaan umat
Berseragam aneka penghuni dalamnya
Tanpa hantaman, itu yang kuingini dalam rumahku
Tapi, kau lihat. Lihatlah!
Kalian lihat sendiri ……..
Rumahku goyah, bumi tempat ku berpijak terasa sesak dan begitu tercerai berai
Kekuatan penghuni nya lah yang disatukan untuk tetap kuasa menahan
Namun, daya hanya pada pemilik tertinggi
                Dengarlah kami ……..
                Penghuni bumi ini, kami satukan jiwa untuk menjaga pondasi kuat “Rumah kami”
                Biarlah terjangan badai penghuni lain menerpa
                Tapi kami kan kuat, kami janjikan kami berdiri kokoh tuk satu keyakinan
                Bahwa kami ada, kami ada untuk amannya rumah kami
                Kami ada untuk kebenaran nyata, dan kami ada untuk menghapuskan duka
LIHATLAH KAMI !!!!
Kami bukan siapa-siapa, hanyalah penghuni bumi biasa
Kami hanyalah hamba, kami juga kan kembali padaNya
Tapi dalam jeritan ini, kami adalah penjaga semesta untuk rumah kami
Penguasa bahkan kebatilan yang kan goyahkan kami
Kami kan terjang, karena kami penjaga semesta untuk rumah kami