Jumat, 03 Maret 2017

SHORT-STORY



INGATKAH, KITA?
AMIRATUN NAHR

Masih sama hal biasa yang selalu tak pernah aku inginkan dalam benakku, tapi entahlah bagaimana aku menjelaskan perihal kisah ini pada dunia agar semua mampu bungkam agar tak bercerita dan tutup buku atas kisah ini.
Kupikir bukan hanya aku yang pernah berpikir satu diantara kita kan menjadi bagian saling satu dan sulit terpisahkan, walau jarak dan waktu mampu kita bantah. Tapi kisah tak semudah itu, kenangan pula tak semudah lepas begitu saja, itu adanya dalam pikiran sulit jika harus sekejap lantas hilang atau bahkan bisa melekat erat.
Kali ini aku mulai bercerita, ketika begitu banyak hal yang ku alami yang kita alami. Ini bukan untuk saling menyalahkan apa pernah terjadi tapi memperbaiki diri membenahi apa yang telah terurai dalam sebuah kisah.
Kadang, aku merasa bahwa ini hanya mimpi. Hadirnya tanpa lelah, terus memanggilku dengan begitu kuat dengan begitu kencang, merangkul erat janjinya dalam ingatanku dalam ingatanku. Iya, aku masih ingat itu.
Layaknya aku bermimpi akan indah untuk nyatanya, tapi apalah artinya mimpi yang hanya bermakna bunga tidur semata. Daku pun lelah untuk berlebihan menafsirkan mimpi yang hanya sebatas mimpi tidur.
Aku sadar, hadirnya memang nyata tak pernah hilang dalam ingatanku. Ucapnya, janjinya, aku masih ingat itu. Semuanya aku ingat. Bukankah itu kenangan? Apakah kau disana mengenangnya? Sudahkah kau pikir itu kau tepati, sudah? Jawabnya, hanya kau lah titik terang untuk itu.
Jujur, aku tak pernah ingin mengulang bahkan mengulas titik balik kisah yang pernah terlewati namun semua yang ada tak aku sangka seperti ada sebuah tanda yang Tuhan titipkan untukku agar aku ingat kisah itu, meski kusadari kita takkan pernah jumpa lagi, bahkan mungkin dalam tempo lama, atau selamanya.
Apa yang salah? Tidak ada untuk pembahasan itu, hanya saja hatiku bingung untuk menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Aku merasa janjinya kembali terngiang dalam ingatanku, bisiknya yang syahdu begitu jelas, hingga aku merasa dia menghampiriku tapi tak berwujud. Apa ini khayalan semata atau entahlah ….
Aku hanya tak ingin kesalahan yang sama itu diulang, kesalahan yang dalam indera penglihatanku jelas aku tak ingin itu terulang, jika aku bisa ingin kuhapus semua kisah yang pernah ada. Biarlah dunia menyembunyikannya dalam diam dan dalam ingatanku saja.
Kesalahan mungkin kan terkenang, tapi bagiku ingatlah aku hanya ingin mengenang sosokmu dalam kebaikan yang ada dalam pandangku. Tak lebih, biarlah waktu ini berlalu biarlah semua yang terjadi. Biarlah terjadi telah menjadi satu kenangan utuh dalam ingatan. Biarlah ini kan jadi pelajaran. Sebab takdir berikutnya, siapa yang tau untuk kita. Bukan begitu?



                                                                -Ditempat yang terkenang oleh waktu diantara kita-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar