INGATKAH, KITA?
AMIRATUN NAHR
Masih
sama hal biasa yang selalu tak pernah aku inginkan dalam benakku, tapi entahlah
bagaimana aku menjelaskan perihal kisah ini pada dunia agar semua mampu bungkam
agar tak bercerita dan tutup buku atas kisah ini.
Kupikir
bukan hanya aku yang pernah berpikir satu diantara kita kan menjadi bagian
saling satu dan sulit terpisahkan, walau jarak dan waktu mampu kita bantah.
Tapi kisah tak semudah itu, kenangan pula tak semudah lepas begitu saja, itu
adanya dalam pikiran sulit jika harus sekejap lantas hilang atau bahkan bisa
melekat erat.
Kali
ini aku mulai bercerita, ketika begitu banyak hal yang ku alami yang kita
alami. Ini bukan untuk saling menyalahkan apa pernah terjadi tapi memperbaiki
diri membenahi apa yang telah terurai dalam sebuah kisah.
Kadang,
aku merasa bahwa ini hanya mimpi. Hadirnya tanpa lelah, terus memanggilku
dengan begitu kuat dengan begitu kencang, merangkul erat janjinya dalam
ingatanku dalam ingatanku. Iya, aku masih ingat itu.
Layaknya
aku bermimpi akan indah untuk nyatanya, tapi apalah artinya mimpi yang hanya
bermakna bunga tidur semata. Daku pun lelah untuk berlebihan menafsirkan mimpi
yang hanya sebatas mimpi tidur.
Aku
sadar, hadirnya memang nyata tak pernah hilang dalam ingatanku. Ucapnya,
janjinya, aku masih ingat itu. Semuanya aku ingat. Bukankah itu kenangan?
Apakah kau disana mengenangnya? Sudahkah kau pikir itu kau tepati, sudah?
Jawabnya, hanya kau lah titik terang untuk itu.
Jujur,
aku tak pernah ingin mengulang bahkan mengulas titik balik kisah yang pernah
terlewati namun semua yang ada tak aku sangka seperti ada sebuah tanda yang
Tuhan titipkan untukku agar aku ingat kisah itu, meski kusadari kita takkan
pernah jumpa lagi, bahkan mungkin dalam tempo lama, atau selamanya.
Apa
yang salah? Tidak ada untuk pembahasan itu, hanya saja hatiku bingung untuk
menjelaskan apa yang terjadi saat ini. Aku merasa janjinya kembali terngiang
dalam ingatanku, bisiknya yang syahdu begitu jelas, hingga aku merasa dia
menghampiriku tapi tak berwujud. Apa ini khayalan semata atau entahlah ….
Aku
hanya tak ingin kesalahan yang sama itu diulang, kesalahan yang dalam indera
penglihatanku jelas aku tak ingin itu terulang, jika aku bisa ingin kuhapus
semua kisah yang pernah ada. Biarlah dunia menyembunyikannya dalam diam dan
dalam ingatanku saja.
Kesalahan
mungkin kan terkenang, tapi bagiku ingatlah aku hanya ingin mengenang sosokmu
dalam kebaikan yang ada dalam pandangku. Tak lebih, biarlah waktu ini berlalu
biarlah semua yang terjadi. Biarlah terjadi telah menjadi satu kenangan utuh
dalam ingatan. Biarlah ini kan jadi pelajaran. Sebab takdir berikutnya, siapa
yang tau untuk kita. Bukan begitu?
-Ditempat yang terkenang oleh waktu diantara kita-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar