SAHABAT
AMIRATUN
NAHR
Kampus adalah kisah lama dalam ingatan,benak dan
utamanya impian dalam hidupku. Banyak yang mimpi yang kulukis agar aku mampu
memetiknya satu persatu pikirku demikian.
Banyak kisah yang tak pernah kupahami, banyak perjalanan
hidup yang telah ku lalui. Dari mengalir deras hingga dangkal sekalipun. Dan
sekarang mimpiku jadi kenyataan, aku sebagai mahasiswi dari salah satu
perguruan tinggi negeri didaerahku, bahagianya diriku, terimakasih ya Allah kau
kabulkan secerca impianku. Alhamdulillah.
-------
Cerita berjalan sejak awal menjadi mahasiswa
masa-masa jadi makhluk awal yang baru mengenal kampus telah kulewati, yah
dengan perjuangan hehe, namun semua tak sesulit dalam pikiran selagi kita
berpikir positif dan yakini saja semuanya kan berlalu, agar penat ini tak
terasa sampai ke hati, yah Alhamdulillah. Semoga berkah awal kisahku.
Duduk dibangku perkuliahan adalah bukan hal pertama,
karna sebelumnya aku juga pernah menduduki bangku perkuliahan semasa menemani
kakak waktu itu hehe eitts tapi lain lagi ini, ini bukan masalah duduk pada
posisinya, namun ini kenyataan yang aku hadapi sebab sekarang aku bukan anak
abg yang sering dikatakan sebagian orang tindak-tanduknya masih tak stabil, ku
buktikan bahwa ini adalah langkah dan menuju kisahku tentunya sebagai
mahasiswi.
Tak
kenal maka tak sayang, begitu perumpaan yang tak pernah kita lupakan saat
berjumpa dengan kawan baru, hmm adaptasi kembali dimulai, meski sudah saling
tau lewat masa ospek bukan berarti sepenuhnya kenal dong ya, pasti ada masa
penjajakan lebih dalam pertemanan.
Kelas A, aku menatap begitu jelas majalah dinding
yang tertempel disudut kampusku, dan aku tergabung dalam kelas itu. Namaku
tertampil jelas diurutan abjad pertama.
Menyenangkan, mungkin bukan cerita biasa saat
pertemuan pertama demikian bagi sebagian orang. Tapi bagiku, aku sudah merasa
nyaman dengan mereka dengan kelas ini.
Hari demi hari, entahlah pertemuan singkat ini
begitu mendamaikan hatiku. Mereka bukan hanya teman sekelas bagiku, tapi mereka
adalah guru bagiku. Kami sering mendiskusikan pendapat, opini, bercerita satu
sama lain, bukan hanya nasihat yang datang namun motivasi tulus datang dengan
adanya mereka. Hai sahabat-sahabatiku, terimakasih.
Berganti
musim bercahaya dingin menatap suka dan duka bersama, satu semester berlalu
dengan bahagia meski kadang kamipun mengalami berbagai hal sulit bukan hanya
secara personal namun dalam kelompok baik secara lahir maupun bathinnya. Semua
dihadapi, ikhlas dan sabar kuncinya.
Semester kedua kembali datang, masih dengan perasaan
yang sama bagiku. Aku senang hadirnya mereka yang bagiku bukan hanya sebagai
teman, sahabatku yang sungguh seperti sanakku sendiri senantiasa memberi rasa
bahagia tersendiri bagiku.
Dan dari setiap waktu yang berlalu, sosok satu ini
adalah cerita dimana kami mengaguminya meski kadang dalam diskusi selalu dan
pasti ada pro dan kontra dalam penanggapannya. Ya, dia yang kurasa lebih tau
dengan pembelajaran ini, maklum aku pribadi bukan sosok orang yang lulus dari
sekolah agama, jadi saat di ptn agama ku saat ini aku masih terus belajar untuk
itu. Dia begitu baik, sosoknya yang santun, ramah, pendiam, shaleh InsyaaAllah,
dan bukan hanya ahli agamanya beliau juga hafidz quran, sehingga tak jarang
temanku memanggil dengan sebutan guru yah karena merasa dia memberikan
pengajaran agama kepada kami meski begitu dia tak sesombong itu, dia tawadhu
dan begitu menundukkan kepalanya diatas orang yang berlagak tinggi dan
sebenarnya mungkin saja masih jauh ilmunya, astagfirullah beliau mengajarkan
banyak hal. Syukron ya akhi~
Semester
pun berakhir dengan final test yang luarbiasa, ketegangan panic senang dan
pokoknya campur aduk telah usai terlewati. Alhamdulillah terimakasih ya Allah
semuanya lancar.
Libur semester tiba, dan tentunya libur ini bukan
main-main kita orang libur hampir 3bulan lebih, wowww that’s sound interesting,
right? Ya, bisa-bisa kita yang mengatur bagaimana masa liburan yang dibarengi
ibadah puasa Ramadhan tentunya, jelasnya teman-temanku kembali kekampung
halaman mereka untuk melepas rindu dengan keluarga mereka.
Tak lama berselang, kami mempersiapkan untuk
studyplan berikutnya, namun disayangkan pagi itu kala matahari tak begitu
nyarak menyapaku hembusan angin begitu deras tak seperti biasanya lalu
handphone ku berdering dan kuterima satu message dari sahabatku, ya Dia si guru
sapaan dilokalku.
Begitu panjang, padat dan berisi setiap bait kalimat
yang disampaikannya hingga pada akhirnya, dia sampaikan bahwa dirinya tak mampu
lanjutkan perkuliahan. Astagfirullah hatiku sungguh tertegun, aku lantas
bertanya dalam hati, mengapa, apa alasannya sesingkat ini kah keputusannya, tak
dapat kupahami. Lalu kuberanikan diri tuk bertanya padanya mengapa, nampak tak
ada alasan, ataukah pikirku ada yang sedang dia tutupi? Entahlah, aku tetapkan
hatiku untuk berhusnudzan. Dan aku berdoa semoga dia segera mengalihkan
pemikiran agar membatalkan hal tersebut. Ternyata message itu tak hanya padaku,
namun juga sampai pada kawan-kawan yang lain, kamipun tak henti bertanya, oh
mengapa? Karena bagiku, dia patut memperjuangkan ini semua, karena ini baru
sepertiga jalan belum sampai pada puncak, sungguh janganlah berputus asa kawan
….
Tak kuketahui kejelasannya hingga saat ini, sebagai
sahabat mungkin pertemuan kita tak lama, begitu singkat, namun kuyakini dia
kawan yang baik dan tentunya apapun pilihannya semoga itu yang terbaik meski
kami sahabatnya tak tau kepastian alasannya, hanyalah menjadi doa terbaik
untukmu sahabatku…… semoga Allah melindungi dan memberkahi langkah kita
bersama, amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar