Sabtu, 16 Juli 2016

Short-Story~



SAHABAT
AMIRATUN NAHR

Kampus adalah kisah lama dalam ingatan,benak dan utamanya impian dalam hidupku. Banyak yang mimpi yang kulukis agar aku mampu memetiknya satu persatu pikirku demikian.
Banyak kisah yang tak pernah kupahami, banyak perjalanan hidup yang telah ku lalui. Dari mengalir deras hingga dangkal sekalipun. Dan sekarang mimpiku jadi kenyataan, aku sebagai mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi negeri didaerahku, bahagianya diriku, terimakasih ya Allah kau kabulkan secerca impianku. Alhamdulillah.

-------
Cerita berjalan sejak awal menjadi mahasiswa masa-masa jadi makhluk awal yang baru mengenal kampus telah kulewati, yah dengan perjuangan hehe, namun semua tak sesulit dalam pikiran selagi kita berpikir positif dan yakini saja semuanya kan berlalu, agar penat ini tak terasa sampai ke hati, yah Alhamdulillah. Semoga berkah awal kisahku.
Duduk dibangku perkuliahan adalah bukan hal pertama, karna sebelumnya aku juga pernah menduduki bangku perkuliahan semasa menemani kakak waktu itu hehe eitts tapi lain lagi ini, ini bukan masalah duduk pada posisinya, namun ini kenyataan yang aku hadapi sebab sekarang aku bukan anak abg yang sering dikatakan sebagian orang tindak-tanduknya masih tak stabil, ku buktikan bahwa ini adalah langkah dan menuju kisahku tentunya sebagai mahasiswi.
            Tak kenal maka tak sayang, begitu perumpaan yang tak pernah kita lupakan saat berjumpa dengan kawan baru, hmm adaptasi kembali dimulai, meski sudah saling tau lewat masa ospek bukan berarti sepenuhnya kenal dong ya, pasti ada masa penjajakan lebih dalam pertemanan.
Kelas A, aku menatap begitu jelas majalah dinding yang tertempel disudut kampusku, dan aku tergabung dalam kelas itu. Namaku tertampil jelas diurutan abjad pertama.
Menyenangkan, mungkin bukan cerita biasa saat pertemuan pertama demikian bagi sebagian orang. Tapi bagiku, aku sudah merasa nyaman dengan mereka dengan kelas ini.
Hari demi hari, entahlah pertemuan singkat ini begitu mendamaikan hatiku. Mereka bukan hanya teman sekelas bagiku, tapi mereka adalah guru bagiku. Kami sering mendiskusikan pendapat, opini, bercerita satu sama lain, bukan hanya nasihat yang datang namun motivasi tulus datang dengan adanya mereka. Hai sahabat-sahabatiku, terimakasih.
            Berganti musim bercahaya dingin menatap suka dan duka bersama, satu semester berlalu dengan bahagia meski kadang kamipun mengalami berbagai hal sulit bukan hanya secara personal namun dalam kelompok baik secara lahir maupun bathinnya. Semua dihadapi, ikhlas dan sabar kuncinya.
Semester kedua kembali datang, masih dengan perasaan yang sama bagiku. Aku senang hadirnya mereka yang bagiku bukan hanya sebagai teman, sahabatku yang sungguh seperti sanakku sendiri senantiasa memberi rasa bahagia tersendiri bagiku.
Dan dari setiap waktu yang berlalu, sosok satu ini adalah cerita dimana kami mengaguminya meski kadang dalam diskusi selalu dan pasti ada pro dan kontra dalam penanggapannya. Ya, dia yang kurasa lebih tau dengan pembelajaran ini, maklum aku pribadi bukan sosok orang yang lulus dari sekolah agama, jadi saat di ptn agama ku saat ini aku masih terus belajar untuk itu. Dia begitu baik, sosoknya yang santun, ramah, pendiam, shaleh InsyaaAllah, dan bukan hanya ahli agamanya beliau juga hafidz quran, sehingga tak jarang temanku memanggil dengan sebutan guru yah karena merasa dia memberikan pengajaran agama kepada kami meski begitu dia tak sesombong itu, dia tawadhu dan begitu menundukkan kepalanya diatas orang yang berlagak tinggi dan sebenarnya mungkin saja masih jauh ilmunya, astagfirullah beliau mengajarkan banyak hal. Syukron ya akhi~
            Semester pun berakhir dengan final test yang luarbiasa, ketegangan panic senang dan pokoknya campur aduk telah usai terlewati. Alhamdulillah terimakasih ya Allah semuanya lancar.
Libur semester tiba, dan tentunya libur ini bukan main-main kita orang libur hampir 3bulan lebih, wowww that’s sound interesting, right? Ya, bisa-bisa kita yang mengatur bagaimana masa liburan yang dibarengi ibadah puasa Ramadhan tentunya, jelasnya teman-temanku kembali kekampung halaman mereka untuk melepas rindu dengan keluarga mereka.
Tak lama berselang, kami mempersiapkan untuk studyplan berikutnya, namun disayangkan pagi itu kala matahari tak begitu nyarak menyapaku hembusan angin begitu deras tak seperti biasanya lalu handphone ku berdering dan kuterima satu message dari sahabatku, ya Dia si guru sapaan dilokalku.
Begitu panjang, padat dan berisi setiap bait kalimat yang disampaikannya hingga pada akhirnya, dia sampaikan bahwa dirinya tak mampu lanjutkan perkuliahan. Astagfirullah hatiku sungguh tertegun, aku lantas bertanya dalam hati, mengapa, apa alasannya sesingkat ini kah keputusannya, tak dapat kupahami. Lalu kuberanikan diri tuk bertanya padanya mengapa, nampak tak ada alasan, ataukah pikirku ada yang sedang dia tutupi? Entahlah, aku tetapkan hatiku untuk berhusnudzan. Dan aku berdoa semoga dia segera mengalihkan pemikiran agar membatalkan hal tersebut. Ternyata message itu tak hanya padaku, namun juga sampai pada kawan-kawan yang lain, kamipun tak henti bertanya, oh mengapa? Karena bagiku, dia patut memperjuangkan ini semua, karena ini baru sepertiga jalan belum sampai pada puncak, sungguh janganlah berputus asa kawan ….
Tak kuketahui kejelasannya hingga saat ini, sebagai sahabat mungkin pertemuan kita tak lama, begitu singkat, namun kuyakini dia kawan yang baik dan tentunya apapun pilihannya semoga itu yang terbaik meski kami sahabatnya tak tau kepastian alasannya, hanyalah menjadi doa terbaik untukmu sahabatku…… semoga Allah melindungi dan memberkahi langkah kita bersama, amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar