Sekian tinggi fatamorgana diufuk yang kan tenggelam
Dia hanya tersenyum meratapi dirinya
Gelap datang bersambut derai angin
Dia hanya berselimut kehangatan kesendiriannya
Jika suara bersahutan ria dijalan
Maka dia hanya mendengarkan lalu tetap terjaga
Setiap
matahari terbit, nampaknya tak bersuara
Langkah
kakinya ringan menyambut pagi
Hingga
wajahnya yang menua tak dihiraukannya
Baginya
berjumpa pagi, adalah anugerah kembali
Kembali matahari hampir menenggelamkan dirinya
Wanita itu seraya berkata
Sungguh, seakan puncak akhirku tiba
Air mata tergantung diantara sela pipi
Hampir meneteskan
Aku takut, aku takut hilang senjaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar