Sastrawan Impian
Amiratun Nahr
Cerita ini dimulai sejak aku menyukai hal-hal yang
berkaitan dengan sastra, saking senangnya sejak sekolah dasar dan menengah
pertama aku mencoba menulis beberapa puisiku dan entahlah bagaimana isinya bagi
orang lain yang mengetahui hal demikian, namun aku tak begitu menghiraukan,
bagiku itu adalah kesenangan pribadi hidupku dan suka atau tidak dengan karya
yang ku buat itu semua tergantung dari masing-masing penilain orang yang ada
disekitarku saat itu.
Beranjak dari situ, sejujurnya entah mengapa
sebetulnya aku sangat sangat dan sangat mencintai dan mengagumi sastra terlebih
puisi, dan seketika aku disekolah menengah pertama aku tetap pada keteguhanku
dan setiap aku mendengar puisi apapun itu hatiku begitu tenang, bahagia dan
merasakan ada sesuatu dari puisi itu yang telah masuk pada jiwaku. Disekolah
menengah pertama, tak pernah ku kira aku malah jarang menuliskan bait-bait
indah puisiku, entahlah aku tak mengerti hal tersebut, malah aku terjun lebih
dalam pada hal jurnalistik dimasa itu dan ada pelatihan khusus yang mana
sertificate juga dikasih langsung atas penghargaan ku pada waktu itu, dimana
saat itu guru bahasa arab, pak Agung sebutlah beliau demikian, ya maklum saya
dulu sekolah menengah pertamanya di mts bukan smp, jadi dengan begitu beliau
memberikan kepercayaan padaku untuk bergabung pada hal tersebut. Dan aku setuju
dengan itu, karena basicnya suka sastra toh ya saya dengan hal-hal yang hampir
mendekati seperti itu aku jadi lebih bersemangat dengan sendirinya. Mula-mula
dimts sering jadi tangan kanannya pak Agung dalam hal menangani mading-mading
sekolah, dan karena setiap bulannya selalu ada buletin sekolah dan disitulah tenagaku
berjalan untuk sekolahku saat itu. Begitu menyenangkan, tanpa sedikitpun aku
mengeluh dengan hal-hal yang mungkin dirasa sebagian bahkan banyak orang hanya
membuang waktu dengan sibuk bersama mengurus buletin sekolah yang setiap
bulannya berganti tema dan narasumber tentunya. Justru yang dikatakan dan
dipikirkan orang lain, tak sesulit dan
secapek yang mereka pikir kok, toh semuanya enak-enak aja bagiku’’. Ohya,
aku selalu bermimpi suatu saat aku bisa menghasilkan suatu karya sastra yang
luarbiasa untuk orang-orang didunia.
Berlanjut dimasa sekolah menengah atas ya SMA, nah
sekarang aku sudah ditahap sekolah menengah atas yang tentunya banyak hal yang
pasti belum aku ketahui dan sangat ingin aku ketahui lebih banyak dari apa yang
dapat dipikirkan orang lain. Tetap pada tahap awal dimana ceritaku yang sangat
mengagumi sastra, terlebih puisi. Mungkin selama kelas 10 aku masih
santai-santai saja dengan kesibukanku yang lain dan tak terlintas untuk
menuliskan bait-bait puisiku, karena entahlah mungkin aku terlalu sibuk
menghafal naskah dan berlatih musik saat itu, yaa wajarlah saya kan ikut ekskul
teater dan musikpanting, jadi seakan bakat saya yang saya sukai terpendam
begitu saja. Seiring waktu dikelas 11, masih layaknya kelas 10 karena aku masih saja sibuk dengan naskah dan
musik yang kukagumi tersebut. Dan hal lain yang kadang terlupa olehku, ya
menulis bait puisi yang selama ini kuharapkan.
Seiring waktu, setiap pembelajaran Bahasa Indonesia
tidak pernah luput dari materi puisi dan itu pelajaran yang menyenangkan
bagiku, hatiku sesungguhnya ingin melakukan itu tapi entahlah setelah lama tak menuliskannya
hanya hatiku saja yang melantunkan puisi. Ya terdengar aneh sih, puisi tanpa tulisan dan hanya bersenandung
dalam pikiran dan hatiku saja saat itu.
Tapi seiring waktu disaat aku memasuki kelas 12,
sebenarnya masih seperti masa kelas yang lalu dengan kesibukan yang sama, hanya
saja kesibukan dengan musik panting sudah mulai berkurang dariku, dan teater
masih berjalan baik.
Jujur, aku mengagumi sastrawan-sastrawan dunia yang
luarbiasa dengan karya-karyanya. Terlebih sastrawan Indonesia yang tak kalah
penting dan ku kagumi sejak dulu, salah satunya Taufiq Ismail, yaa aku begitu
mengagumi beliau. Bagiku beliau sosok yang luarbiasa dan beliau pula sosok
sastrawan nasional yang penuh dengan karya yang menjadi teladan bagi setiap
manusia, terlebih aku.
Yaa aku
bermimpi suatu hari bisa berjumpa dengan sang idolaku. Tapi yah mimpiku
mungkin sulit tercapai, karena rasaku sulit bisa bertemu beliau saat itu.
Suatu hari ketika guru Bahasa Indonesia ku yakni Ibu
Muchrita menemui ku dan beliau berkata demikian, “Nak, ini ibu ada dapat
undangan untuk acara sastrawan bicara siswa bertanya, mau ikut?, Lantas ku
jawab, iya bu saya ikut. Dan beliau bilang ya sudah saya tebak kamu pasti mau
ikut apa ajalah kamu ini selalu suka dengan hal beginian kata beliau, ibu suka
sekali nak dengan kamu,’’ heee jawabku ah ibu tahu saja kalau saya suka dengan
hal seperti itu, dan awalnya aku belum paham event apa sih sebenarnya yang
diajak oleh guruku dan aku bertanya, bu memangnya itu event berkumpul para
sastrawan ya bu atau bagaimana? Lantas beliau menjawab iya, disana nanti akan
ada sastrawan nasional seperti Taufiq Ismail, Jamal D. Rahman, Ari Kpin, Joni
Ariadinata, dan Jamal T.Suryanata. Subhanaallah, decak kagum langsung hatiku
berdegup begitu kencang setelah mendengar yang akan datang itu Pak Taufiq
Ismail. Yaa beliau adalah idolaku selama ini, hatiku bergembira dan tak sabar
aku untuk berjumpa beliauJ.
Dan akhirnya event itu tiba, tepat tanggal 25
September 2014 lalu, ya hari Kamis aku sangat ingat waktu itu kejadian itu sangat
berkesan, dan aku tak menyangka bisa mendapatkan undangan istimewa tersebut
sebagai seorang siswa disekolah.
Awal acara diisi oleh berbagai karya-karya siswa,
aku tak sabar menantikan kehadiran beliau untuk melantunkan beberapa syair
beliau yang luar biasa, dan seketika itu tak lama berselang beliau dipanggil
naik keatas panggung dan sorak tepuk tangan pun berhamburan luarbiasa menyambut
beliau. Subhanaallah, tak kuasa aku berucap kagum dan bersyukur Alhamdulillah,
ini layaknya mimpi aku bisa bertemu dengan sang idola. Ini nyata adanya.
Saat itu beliau menyampaikan cerita beliau semasa
diluarnegeri dan melantunkan beberapa syair beliau yang luarbiasa dan setelah
itu ada sesi tanda tangan, dan aku rela berdesak-desakan demi mendapatkan tanda
tangan beliau, hehe, capek sih ya sesak
banget serius deh, tapi demi idola nay rela banget.

Dan taraaaaaaaaaaaaaaaaaaa, itulah tandatangan
beliau yang kudapatkan dengan penuh perjuangan, hee alhamdulillah. Meskipun
sebenarnya masih sedikit sedih karena gak bisa foto bareng, ya berhubung pas
kejebak lunch saat itu. It’s okay lah ya, yang penting udah ketemu, jabat
tangan, dan dapat tanda tangan beliau itu sesuatuuuuuuuuuuuuuu banget buat
aku{}.
Yang terpenting diacara itu, aku sangat bersyukur,
bangga bukan main, karena ini hal luar biasa yang tak pernah kukira selama ini.
Bisa bertemu dan bertatap muka sama idola luar biasa banget, dan juga bisa
ketemu sastrawan nasional lainnya seperti Jamal D. Rahman, Ari Kpin, Joni
Ariadinata, dan Jamal T.Suryanata. Subhanaallah, aku bahagiaJ
Nah dari pertemuan singkat itulah yang menyebabkan
sekarang aku kembali aktif dalam menulis puisi dan ditambah lagi dengan cerpen,
Alhamdulillah beliau sosok penyemangat buatku, you’re myinspiration Sir, Taufiq
IsmailJ.
Thanks for everything, I was so happy happy
happy................................................hhii
Thanks God, banyak hal yang kadang kita kira yang
gak mungkin terjadi, tapi percayalah karena Allah senantiasa ada bersama kita,
segala yang tak mungkin, selalu bisa jadi mungkin, yaa kenyataanJ.
Intinya bermanfaat banget ikut SBSB di Banjarmasin{}

nih
kejauhan ngshootnya, padahal keren nih pas Pak Taufiq Ismail sharing sama kitaJ
it’s
meJ
hi hi hi, havefun~
nih
mas Ari Kpin (yang pake kcmata yaa, cowo yang luarbiasa, jago banget
musikalisasi puisinya, duh nay aja ngerasa ngefly dengarnya:$)Sayangnya hanya sebagian yang bisa nay foto2 bareng, maaf yaa, hhii
ini
dikasih pas SBSB{} love it~
Thanks~
@naywafda28
SASTRAWAN IMPIAN, BANJARMASIN
AMIRATUN NAHR
CERPEN
SDN KELAYAN-SELATAN 3 BANJARMASIN
MTSN BANJAR-SELATAN 2 BANJARMASIN
SMAN 4 BANJARMASIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar