Selasa, 30 Desember 2014

Gadis Harmonica~



GADIS HARMONICA
Amiratun Nahr

Awal tahun yang begitu menyenangkan dirasakan setiap orang ketika menyambut tahun yang baru, dan disetiap hari akan senantiasa menyemarak dengan semangat baru dalam segala hal, perubahan akan selalu datang biasanya diawal tahun. Namun disudut keramaian itu, ada sosok gadis yang masih termangu duduk manis diteras rumahnya sambil membawa alat musik kesayangannya harmonica, dia tidak pernah merubah kebiasaannya, mungkin akan selalu begitu hingga waktu berganti waktu lagi, menanti seseorang yang diharapkannya tiba padanya, dialah sosok gadis harmonica.
Sebut saja Saina dialah gadis harmonica yang ku maksudkan dalam cerita ini, dia sosok gadis yang baik, ramah, lemah-lembut, dia sosok gadis layaknya kebanyakan gadis biasa, tapi banyak hal luarbiasa yang belum kita ketahui bersama dari dirinya.
Dilain hal dia adalah gadis yang menjalani kehidupannya layaknya orang biasa, dia bersenang-senang, sibuk dengan kegiatannya, dan berbagai hal lain pun dia lakukan. Tapi yang selalu tidak pernah dia lupakan adalah kebersamaannya dengan kesayangannya, ya harmonica, sebuah alat musik yang unik dan ukurannya pun tidak terlalu besar namun ketika dimainkan dengan baik maka akan menimbulkan irama dan melodi yang begitu syahdu terdengarkan oleh telinga kita.
Dalam benakku terlintas mengapa sang gadis ini selalu dan tidak pernah melewatkan sedikitpun harinya tanpa harmonica itu? Apa yang menyebabkan harmonica itu begitu berarti baginya? Dan pikirku, karena dia pandai dan suka akan harmonica itu, ya jelas lah kalau sangat berarti pasti alasannya karena dia telah terlanjur menyukai benda itu. Namun, suatu ketika gadis itu berada disudut keramaian, ya tepatnya hanya diteras rumahnya saja, dia bersama harmonica bercorak biru itu dengan memandangi arah langit. Saat itu ada yang menghampirinya dan menyapanya, hai gadis kecil apa yang sedang kau lakukan? Dan apa yang ada ditanganmu itu, yang kau pegang? Gadis itu hanya menjawab saya sedang menunggu seseorang, lantas orang itu bertanya lagi ‘’oh begitu, emm yang kau pegang itu harmonica bukan? Iya, jawab Saina. Wah benar rupanya dugaanku, tapi untuk apa kau menunggu seseorang dan hanya memegang harmonica mu itu tanpa memainkannya, bukankah dengan kau memainkannya akan jauh terlihat lebih baik, bukan? Gadis itu hanya tersenyum dan masuk kembali kedalam rumahnya. Dan orang yang bertanya itu bingung, dan penasaran sehingga dia senantiasa melihat gerak-gerik Saina sepanjang harinya.
Hari demi hari, sang gadis harmonica tetap pada kebiasaanya, memegang harmonica dan duduk diteras rumahnya dan saban  kali orang yang datang padanya bertanya apa yang ia lakukan dia hanya menjawab sedang menunggu seseorang, yaa begitu herannya setiap orang yang melihatnya. Tapi itu tidaklah jadi masalah bagi dirinya sendiri. Dia tetap senang dengan perihal tersebut, dia terlihat senang dengan apa yang dia lakukan.
Suatu ketika setelah berulang-ulang hal tersebut ditanyakan oleh orang itu padanya, hai gadis harmonica bukankah setiap kali aku berjumpa denganmu kau selalu saja memandangi harmonicamu dan langit itu, siapa sosok yang kau tunggu setiap menit, detik, dan jam bersama harmonicamu itu? Dan dia menjawab, aku menunggu pemilik harmonica ini. Lah maksudmu ini bukan harmonicamu ya, atau bagaimana? Tidak, ini memang punya saya tapi saya menunggu orang yang memberikan harmonica ini pada saya, karna dia tak kunjung datang lagi pada saya, ya saya pikir selamanya.’’jawabnya. Tunggu dulu kata orang itu, jadi harmonica itu pemberian kekasihmu, begitu? Dan kenapa dia tak kunjung datang bahkan kau katakan selamanya, mengapa? Gadis itu menjawab dengan ekspresi berkaca-kaca matanya layaknya begitu lama menantikan seseorang yang begitu dirindukannya. Dia orang yang berkesan bagi saya, dia pemotivasi dan penyemangat hidup saya, sungguh dia yang memacu saya untuk bisa memainkan harmonica ini, tapi sampai detik ini harmonica ini hanya saya pegang dan sesekali saja saya mainkan, dan itupun hanya dengan nada dasar, bukan seperti lagu atau melodi layaknya yang dimainkan orang banyak dan soal keberadaannya dia sekarang hilang, hilang. (dia terhenti dan menghela nafas panjang, dan air matanya tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi gadis itu). Orang itu lalu termangu dan bingung, lantas dia bertanya kembali, jadi selama ini kau duduk disini dan hanya memegang harmonica itu tanpa memainkannya melainkan hanya untuk menunggu seseorang saja, seseorang yang begitu berarti memberi kau hadiah itu, dan kau sedikitpun tak bisa memainkan alat musik itu? Gadis itu menjawab, iya dan dia tersenyum.
Waktu kembali berjalan, dan akhirnya kusadari bahwa itu bukanlah kebiasaan sang gadis melainkan penantiannya, dan itu yang terlintas dalam benakku. Ternyata ada sosok pria yang sedang ia tunggu, namun entah keberadaannya dimana diapun tak tau, dan aku masih begitu heran dengan penantian sang gadis yang tak berujung itu. Awalnya ku kira dia memiliki harmonica itu karena dia mahir dan ahli dalam memainkannya namun ternyata bukan karena alasan itu.
Lalu, selanjutnya seperti biasa ketika kita menemui ataupun melihat sang gadis itu, dia tetap seperti biasanya, memegang harmonica dan duduk diteras rumahnya dan saban kali orang yang datang padanya bertanya apa yang ia lakukan dia hanya menjawab sedang menunggu seseorang, yaa begitu herannya setiap orang yang melihatnya. Tapi itu tidaklah jadi masalah bagi dirinya sendiri. Dia tetap senang dengan perihal tersebut, dia terlihat senang dengan apa yang dia lakukan.
Dan suatu ketika datang lagi orang yang selalu bertanya padanya itu, dan orang itu kemudian menanyakan sesuatu padanya, apakah seseorang yang kau tunggu telah datang gadis kecil? Tidak, ia belum datang dan mungkin tidak akan datang lagi. ‘’jawab gadis itu. Lantas mengapa kau tetap disini menunggunya tanpa kepastian, dan apalah artinya dengan semua itu, kau sia-sia kau hanya akan membuang waktumu disini, dengan harmonicamu yang tanpa nada itu. Gadis itu menjawab, aku tidak pernah sia-sia menunggunya, meskipun dia tidak hadir saat ini tapi dia akan selalu hadir dalam hidupku, seperti alunan nada harmonica yang akan kumainkan ini meskipun hanya nada dasar yang kumampu, tapi dari situlah aku tetap menunggunya dalam penantianku,’’ucapnya.
Lalu gadis itu teringat dengan kalimat ini, ‘’suatu hal yang kecil jika dimainkan lewat dan dengan perasaan, maka akan menghasilkan suatu hal yang sangat indah” dan tahukah kalian gadis itu tersenyum, karena kenapa? Ya kalimat itu adalah kalimat seseorang yang dinantikan kehadirannya oleh sang gadis harmonica tersebut.
Pikirku apakah sosok yang dinantikan sang gadis harmonica kan datang dalam penantiannya itu, entahlah, semoga cerita ini akan membawanya pada hal indah yang dinantinya, semoga~


Gadis Harmonica, 30Desember2014
Cerpen kehidupan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar