GADIS
HARMONICA
Amiratun Nahr
Awal tahun yang begitu menyenangkan dirasakan setiap
orang ketika menyambut tahun yang baru, dan disetiap hari akan senantiasa
menyemarak dengan semangat baru dalam segala hal, perubahan akan selalu datang
biasanya diawal tahun. Namun disudut keramaian itu, ada sosok gadis yang masih
termangu duduk manis diteras rumahnya sambil membawa alat musik kesayangannya
harmonica, dia tidak pernah merubah kebiasaannya, mungkin akan selalu begitu
hingga waktu berganti waktu lagi, menanti seseorang yang diharapkannya tiba
padanya, dialah sosok gadis harmonica.
Sebut saja Saina dialah gadis harmonica yang ku maksudkan
dalam cerita ini, dia sosok gadis yang baik, ramah, lemah-lembut, dia sosok
gadis layaknya kebanyakan gadis biasa, tapi banyak hal luarbiasa yang belum
kita ketahui bersama dari dirinya.
Dilain hal dia adalah gadis yang menjalani
kehidupannya layaknya orang biasa, dia bersenang-senang, sibuk dengan
kegiatannya, dan berbagai hal lain pun dia lakukan. Tapi yang selalu tidak
pernah dia lupakan adalah kebersamaannya dengan kesayangannya, ya harmonica,
sebuah alat musik yang unik dan ukurannya pun tidak terlalu besar namun ketika
dimainkan dengan baik maka akan menimbulkan irama dan melodi yang begitu syahdu
terdengarkan oleh telinga kita.
Dalam benakku terlintas mengapa sang gadis ini
selalu dan tidak pernah melewatkan sedikitpun harinya tanpa harmonica itu? Apa
yang menyebabkan harmonica itu begitu berarti baginya? Dan pikirku, karena dia
pandai dan suka akan harmonica itu, ya jelas lah kalau sangat berarti pasti
alasannya karena dia telah terlanjur menyukai benda itu. Namun, suatu ketika
gadis itu berada disudut keramaian, ya tepatnya hanya diteras rumahnya saja,
dia bersama harmonica bercorak biru itu dengan memandangi arah langit. Saat itu
ada yang menghampirinya dan menyapanya, hai gadis kecil apa yang sedang kau
lakukan? Dan apa yang ada ditanganmu itu, yang kau pegang? Gadis itu hanya
menjawab saya sedang menunggu seseorang, lantas orang itu bertanya lagi ‘’oh
begitu, emm yang kau pegang itu harmonica bukan? Iya, jawab Saina. Wah benar
rupanya dugaanku, tapi untuk apa kau menunggu seseorang dan hanya memegang
harmonica mu itu tanpa memainkannya, bukankah dengan kau memainkannya akan jauh
terlihat lebih baik, bukan? Gadis itu hanya tersenyum dan masuk kembali kedalam
rumahnya. Dan orang yang bertanya itu bingung, dan penasaran sehingga dia
senantiasa melihat gerak-gerik Saina sepanjang harinya.
Hari demi hari, sang gadis harmonica tetap pada
kebiasaanya, memegang harmonica dan duduk diteras rumahnya dan saban kali orang yang datang padanya bertanya apa
yang ia lakukan dia hanya menjawab sedang menunggu seseorang, yaa begitu
herannya setiap orang yang melihatnya. Tapi itu tidaklah jadi masalah bagi dirinya
sendiri. Dia tetap senang dengan perihal tersebut, dia terlihat senang dengan
apa yang dia lakukan.
Suatu ketika setelah berulang-ulang hal tersebut
ditanyakan oleh orang itu padanya, hai gadis harmonica bukankah setiap kali aku
berjumpa denganmu kau selalu saja memandangi harmonicamu dan langit itu, siapa
sosok yang kau tunggu setiap menit, detik, dan jam bersama harmonicamu itu? Dan
dia menjawab, aku menunggu pemilik harmonica ini. Lah maksudmu ini bukan
harmonicamu ya, atau bagaimana? Tidak, ini memang punya saya tapi saya menunggu
orang yang memberikan harmonica ini pada saya, karna dia tak kunjung datang
lagi pada saya, ya saya pikir selamanya.’’jawabnya. Tunggu dulu kata orang itu,
jadi harmonica itu pemberian kekasihmu, begitu? Dan kenapa dia tak kunjung
datang bahkan kau katakan selamanya, mengapa? Gadis itu menjawab dengan
ekspresi berkaca-kaca matanya layaknya begitu lama menantikan seseorang yang
begitu dirindukannya. Dia orang yang berkesan bagi saya, dia pemotivasi dan
penyemangat hidup saya, sungguh dia yang memacu saya untuk bisa memainkan
harmonica ini, tapi sampai detik ini harmonica ini hanya saya pegang dan
sesekali saja saya mainkan, dan itupun hanya dengan nada dasar, bukan seperti
lagu atau melodi layaknya yang dimainkan orang banyak dan soal keberadaannya
dia sekarang hilang, hilang. (dia terhenti dan menghela nafas panjang, dan air
matanya tiba-tiba saja jatuh membasahi pipi gadis itu). Orang itu lalu termangu
dan bingung, lantas dia bertanya kembali, jadi selama ini kau duduk disini dan
hanya memegang harmonica itu tanpa memainkannya melainkan hanya untuk menunggu
seseorang saja, seseorang yang begitu berarti memberi kau hadiah itu, dan kau
sedikitpun tak bisa memainkan alat musik itu? Gadis itu menjawab, iya dan dia tersenyum.
Waktu kembali berjalan, dan akhirnya kusadari bahwa
itu bukanlah kebiasaan sang gadis melainkan penantiannya, dan itu yang
terlintas dalam benakku. Ternyata ada sosok pria yang sedang ia tunggu, namun
entah keberadaannya dimana diapun tak tau, dan aku masih begitu heran dengan
penantian sang gadis yang tak berujung itu. Awalnya ku kira dia memiliki
harmonica itu karena dia mahir dan ahli dalam memainkannya namun ternyata bukan
karena alasan itu.
Lalu, selanjutnya seperti biasa ketika kita menemui
ataupun melihat sang gadis itu, dia tetap seperti biasanya, memegang harmonica
dan duduk diteras rumahnya dan saban kali orang yang datang padanya bertanya
apa yang ia lakukan dia hanya menjawab sedang menunggu seseorang, yaa begitu
herannya setiap orang yang melihatnya. Tapi itu tidaklah jadi masalah bagi dirinya
sendiri. Dia tetap senang dengan perihal tersebut, dia terlihat senang dengan
apa yang dia lakukan.
Dan suatu ketika datang lagi orang yang selalu
bertanya padanya itu, dan orang itu kemudian menanyakan sesuatu padanya, apakah
seseorang yang kau tunggu telah datang gadis kecil? Tidak, ia belum datang dan
mungkin tidak akan datang lagi. ‘’jawab gadis itu. Lantas mengapa kau tetap
disini menunggunya tanpa kepastian, dan apalah artinya dengan semua itu, kau
sia-sia kau hanya akan membuang waktumu disini, dengan harmonicamu yang tanpa
nada itu. Gadis itu menjawab, aku tidak pernah sia-sia menunggunya, meskipun
dia tidak hadir saat ini tapi dia akan selalu hadir dalam hidupku, seperti
alunan nada harmonica yang akan kumainkan ini meskipun hanya nada dasar yang
kumampu, tapi dari situlah aku tetap menunggunya dalam penantianku,’’ucapnya.
Lalu gadis itu teringat dengan kalimat ini, ‘’suatu hal yang kecil jika dimainkan lewat
dan dengan perasaan, maka akan menghasilkan suatu hal yang sangat indah”
dan tahukah kalian gadis itu tersenyum, karena kenapa? Ya kalimat itu adalah
kalimat seseorang yang dinantikan kehadirannya oleh sang gadis harmonica
tersebut.
Pikirku apakah sosok yang dinantikan sang gadis
harmonica kan datang dalam penantiannya itu, entahlah, semoga cerita ini akan
membawanya pada hal indah yang dinantinya, semoga~
Gadis
Harmonica, 30Desember2014
Cerpen
kehidupan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar